Wajah Baru Lapangan SDN 56 Tolobali: Guru Turun Tangan "Menyulap" Arena Gopa dan Hadang Jadi Lebih Estetik
Wajah Baru Lapangan SDN 56 Tolobali: Guru Turun Tangan "Menyulap" Arena Gopa dan Hadang Jadi Lebih Estetik
Oleh : Hardinah, S.Pd
KOTA BIMA — Ada pemandangan yang berbeda di halaman SDN 56 Tolobali Kota Bima pada Rabu pagi, 08 April 2026. Alih-alih memegang buku atau kapur di dalam kelas, sejumlah guru nampak sibuk dengan kuas dan kaleng cat di tangan.
Bukan tanpa alasan, aksi para pahlawan tanpa tanda jasa ini bertujuan untuk memperjelas dan mempercantik garis lapangan permainan tradisional Gopa dan Hadang (Lari Balok/Galah Asin). Langkah ini dilakukan guna menyambut antusiasme siswa dalam melestarikan olahraga tradisional yang kini kembali digandrungi di sekolah.
Revitalisasi Arena Bermain Siswa
Kondisi garis lapangan yang sebelumnya mulai memudar akibat cuaca, kini kembali terlihat tajam dengan warna-warna kontras. Hal ini penting dilakukan agar saat jam istirahat atau pelajaran Olahraga, siswa dapat bermain dengan aturan yang jelas tanpa ada perdebatan mengenai batas garis.
"Kami ingin anak-anak merasa nyaman dan bersemangat. Dengan lapangan yang representatif, mereka tidak hanya bermain, tapi juga belajar sportifitas melalui permainan tradisional seperti Gopa dan Hadang," ujar salah satu guru di sela-sela aktivitas mengecat.
Mengapa Gopa dan Hadang?
Keputusan sekolah untuk memprioritaskan perbaikan lapangan ini memiliki misi khusus, di antaranya:
Pelestarian Budaya: Menjaga agar permainan asli daerah tetap dikenal oleh generasi Alpha.
Kesehatan Fisik: Permainan Hadang sangat efektif melatih kelincahan dan kerja sama tim.
Keceriaan Siswa: Memberikan ruang terbuka hijau yang edukatif dan menyenangkan.
Antusiasme Warga Sekolah
Aksi para guru ini mendapat apresiasi dari para siswa yang sudah tidak sabar ingin menjajal "wajah baru" lapangan mereka. Selain memperjelas batas permainan, pengecatan ini juga memberikan kesan lingkungan sekolah yang lebih terawat dan bersih.
Dengan semangat gotong royong di hari Rabu ini, SDN 56 Tolobali membuktikan bahwa pendidikan tidak hanya terjadi di bangku kelas, tetapi juga melalui perhatian pada fasilitas pendukung kreativitas dan kebahagiaan siswa di lapangan hijau.